10 08 2008

Ketika Makanan Tradisional Kembali Menggelitik Lidah

Oleh: Dadan Wiadi

Ketika suatu hari melakukan perjalanan ke daerah pedesaan di Ciamis Jawa Barat bersama dengan beberapa kolega saya di Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, dalam rangka fieldwork untuk penelitian saya. Kami disela-sela melakukan pertemuan dengan masyarakat setempat, kami disuguhi sejenis kue yang membuat saya agak mengerutkan dahi.
Bukan berarti kue itu aneh, tetapi kue itu membuat saya tertawa dan teringat kembali pada masa kecil saya di daerah pedesaan Sunda tempat dimana pada waktu-waktu tertentu semisal menjelang Iedul Fitri saya selalu menghabiskan waktu dengan nenek dan kakek saya dari pihak bapak. Kue ini selalu tersaji baik dari bingkisan orang maupun nenek saya membuatnya sendiri.
Melayangkan pikiran kembali pada masa silam sekitar tahun 80an dimana ”Social Network” diantara masyarakat masih utuh dan sangat kuat. Tradisi saling mengunjungi dengan membawa makanan ketika akan menghadapi perhelatan secara ikhlas dilakukan. Masih bersih di memori saya bagaimana orang-orang desa itu berjalan beriringan di jalan tanpa sentuhan aspal, dimana si ibu atau anak perempuan membawa bakul berisi makanan, si ayah dan anak laki-laki ”nanggung” atau memikul pikulan berisi hasil pertanian menuju rumah kerabatnya. Perjalanan mereka ini bisa sampai berkilo meter karena belum ada alat transportasi seperti halnya sekarang. Jika mereka berpapasan dengan keluarga lainnya, mereka pasti akan saling menyapa dengan hangat dan ceria meskipun mereka belum kenal satu sama lain, sungguh indah sekali.
Kembali pada kue tadi, namanya sungguh sederhana ”cuhcur” yang dibuat dari bahan yang sederhana tanpa margarine ataupun lainnya, tapi dari sejenis ”aci ketan” (Tepung ketan) dan gula dengan proses pemasakan secara tradisional. Di masa kecil saya sangat benci kue ini, sampai saya begidik kalau lihat makanan ini dan sama sekali tidak mau menyentuhnya. Mungkin karena tampilan kue ini yang kasar yang membuat saya tidak suka. Saya selalu meminta ibu atau siapapun menjauhkan kue ini dari hadapan saya.
Tetapi ketika kerinduan akan suasana masa lalu, tradisionalitas dan keluhuran budi dan daya para pendahulu menyelimuti saya, saya merindukan semua jenis makanan yang sekarang sudah tergusur oleh ”cake”, ”sus”, ”rollade”, McDonald dan lain sebagainya untuk kembali meggoyang lidah saya. Alhasil ketika ”cuhcur” ini disajikan dihadapan saya, saya langsung menyambar dan mengunyahnya dengan cepat, dan beberapa potong telah saya habiskan seketika sambil tersenyum mengingat betapa saya membenci kue ini waktu kecil.